Azizah KDI Efect: Melabrak Metanarasi

 Azizah Efect: Melabrak Metanarasi
Oleh Wilfrid Valiance
Mahasiswa Master Sosiologi Universitas Indonesia, Staf Kajian Islam pada Wahid Institut Jakarta
"PASTOR dukung Azizah ya, ngga salah ni, kan dia muslim?" seorang sahabat mahasiswi mengajukan pertanyaan mengejutkan itu saat kami berpapasan di Kampus UI. Dia seperti tidak percaya melihat setiap usai jam kuliah saya bergegas di tengah kemacetan Jakarta menuju studio MNCTV Taman Mini Square menyaksikan pentas KDI.

Saya bukan pencinta musik dengan genre dangdut. Tetapi hari-hari ini, saya -seperti puluhan ribu warga Flores di seantero jagat- larut dalam eforia dangdut. Magnet yang menarik saya bergegas setiap usai jam kuliah yang melelahkan bukan dangdut tetapi Azizah, gadis muslim; siswi kelas XI SMK Yohanes XXIII Maumere. Bagi mahasiswi yang keheranan itu, Azizah yang muslim dan saya yang pastor adalah dua hal yang tidak gampang disandingkan. Saya sangat paham setelah mengenalnya sebagai mahasiswi konservatif fanatik, yang tumbuh di tengah lingkungan yang membuatnya terbiasa untuk bersikap enggan terhadap keberagaman. Sambil tersenyum-senyum saya menggoda rasa herannya, "main yu ke Flores, pertanyaanmu akan tuntas terjawab di sana."

Tidak ada yang salah dengan mahasiswi itu. Ia hanya orang saleh yang bernasib
sial karena kurang dibiasakan dengan perbedaan. Fenomena ini persis menggambarkan bahaya bagi penganut agama-agama. Mahasiswi itu dan sejumlah orang lain yang senasib dengannya, sesungguhnya tengah terjebak dalam kecenderungan melihat segala sesuatu dari perspektif tunggal (one dimensional). Semangat ini gampang menggoda orang untuk melihat diri, kelompok, partai politik, ideologi yang diusung atau agama yang dianut sebagai mainstream, sehingga cenderung menjadi fanatik, menolak alternatif dan yang paling celaka adalah menghadapi perbedaan dengan rasa enggan.

Metanarasi Agama
Dunia kontemporer secara sangat telanjang menyuguhkan fakta sosial yang buram. Metanarasi (narasi besar) filsafat dan paham-paham seperti Marxisme atau feminisme dan demokrasi yang mengklaim memiliki kebenaran dan metode-metode valid (Lyotard: 1989), tidak terbukti dapat menyelesaikan problem-problem sosial yang kompleks dan ruwet, terutama kemiskinan, korupsi, kekerasan, ketimpangan gender, konflik, dan berbagai trend sekular yang mengganggu keseimbangan sosial. Ada fenomena ketidaksabaran sejumlah kalangan menanti perubahan yang tak kunjung datang sehingga mendesakkan cita-cita untuk mengganti klaim-klaim lama dengan klaim-klaim baru yang tidak lain adalah metanarasi baru.
Agama adalah contohnya. Desakan paling kencang datang dari kalangan yang percaya bahwa hanya agama satu-satunya narasi besar yang dapat segera mengubah wajah dunia. Cita-cita ini dapat diwujudkan hanya jika Tuhan dapat "disangkarkan" agar Ia tidak menghuni terlalu banyak agama. Pengalaman dan refleksi yang soliter akan Tuhan dipercaya lebih segera menyelesaikan semua persoalan.

Fenomena ini memicu tiga kecenderungan fanatisme. Pertama, orang tidak dapat menerima bahwa pengalaman akan Tuhan dapat sangat beragam sehingga agama pun dapat sangat berbeda. Intolerensi atau lebih ekstrim penolakan terhadap agama lain berakar dari perspektif seperti ini. Kedua, secara politis, fanatisme terungkap melalui kuatnya upaya institusionalisasi nilai-nilai keagamaan ke dalam produk hukum dan kebijakan politik, sebagaimana terdapat dalam pasal-pasal krusial konstitusi dan perda-perda yang mengancam pluralisme. Malaysia, Brunai Darusalam dan Indonesia adalah beberapa contoh.


 http://kupang.tribunnews.com/2015/05/20/azizah-efect-melabrak-metanarasi

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Azizah KDI Efect: Melabrak Metanarasi"

Posting Komentar