Bahaya Jual Beli Ijazah Kasus Jual Beli Ijazah, Ceu Popong: Mentalna Eeweuh?



Kasus Jual Beli Ijazah, Ceu Popong: Mentalna Eeweuh?
Jakarta - Menristek Dikti Muhammad Nasir menerima laporan tentang adanya praktik jual-beli ijazah di 18 kampus. Anggota Komisi Pendidikan DPR, Popong Otje Djundjunan, pun meminta kampus-kampus itu segera ditindak.

"Ya pastina juga sampai kongkalikong (beli ijazah) ya pasti buat apa kalau bukan buat kerja? Pastinya untuk modal sesuatu kan? Untuk kerjaan pastinya. Kalau orang yang mau kerja pakai ijazah palsu, mentalna eweuh?" tutur Ceu Popong saat berbincang lewat sambungan telepon, Selasa (19/5/2015).

Ceu Popong juga meminta jika bukti-bukti adanya praktik jual beli sudah ada, maka langsung saja diungkap. Namun jika isunya masih belum jelas, maka sebaiknya diteliti kembali.

"Kalau sudah seperti ini pasti kan ada rangkaian jaringan. Bisa rektornya tahu, tapi bisa juga rektornya asal tanda tangan. Jadi jangan semata-mata langsung salahkan rektor atuh. Kan teknologi sudah canggih, bisa saja tanda tangan dipalsukan. Tapi kalau rektornya juga masuk jaringan, sok atuh dihukum," kata politikus 76 tahun ini.

Tindakan jual beli ijazah itu harus dikaji untuk kemungkinan dimasukkan pidana. Sehingga ini merupakan urusan serius dan harus segera ditindak.

Sebelumnya diberitakan pula bahwa Menteri Nasir menerima laporan bahwa ada belasan kampus di Jabodetabek dan 1 di Kupang, NTT yang memperdagangkan ijazah. "Laporan yang mengadukan ke saya, harganya Rp 16-25 juta untuk S1. Ada yang dijual Rp 20 juta, ada juga yang Rp 18 juta. Semua di Jabodetabek," kata M Nasir saat berbincang, hari ini (20/5).

Dengan merogoh kocek seharga tersebut, pembeli ijazah tak perlu kuliah minimal 3,5-4 tahun untuk mendapatkan gelar sarjana. Cukup bayar, ijazah dan gelar pun bisa disandang.

 detik.com

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Bahaya Jual Beli Ijazah Kasus Jual Beli Ijazah, Ceu Popong: Mentalna Eeweuh? "

Posting Komentar